Kelompok
:
1. Tan
Andre Kurniawan (
A12.2009.03400 )
2. Julian
Adhika Widodo (
A12.2009.03401 )
3.
Ekhsandra Y . Lasamanov ( A12.2009.03413 )
4. Fandi
R. Darmawan (
A12.2009.03423 )
5. Aji
Sulistyono (
A12.2009.03782 )
Sistem Alokasi
Surplus Air
( Dengan Metode
AHP )
LATAR BELAKANG
PDAM memiliki surplus
air yang belum dapat dipastikan akan disuplai ke sektor mana. Untuk memudahkan
PDAM dalam menentukan sektor yang paling tepat menerima surplus air tersebut maka
penulis mengusulkan sistem pendukung keputusan yang dapat membantu pihak PDAM
dalam memutuskan dengan tepat pengalokasian surplus air sehingga meningkatkan
efektifitas pengambilan keputusan bagi PDAM. Penelitian yang dilakukan ini
memfokuskan untuk membangun DSS dengan menambah penggunaan metode Analytic
Hierarcy Process (AHP) untuk menentukan pemanfaatan surplus air berdasarkan 3
faktor yaitu okupansi, kebutuhan air dan jenis. Logikanya semakin tinggi nilai
okupansi, kebutuhan air dan jenis dari suatu kecamatan, maka semakin besar
kesempatan kecamatan tersebut untuk memperoleh pemanfaatan surplus air tersebut.
Dari penelitian ini, dengan penggunaan kedua metode DSS yang
optimal secara computerized, diharapkan dapat membantu dan memudahkan pihak
pemrakarsa dalam tugasnya menilai kelayakan pengajuan permintaan air menjadi
lebih cepat dan akurat. Melihat dari penggunaan metode ini dapat disimpulkan
bahwa, layak tidaknya surplus air diberikan sangat dipengaruhi oleh faktor
okupansi, kebutuhan air dan jenis.
Pemilihan
Metode AHP
AHP
(Analytic Hierarchy Process) merupakan salah satu teknik dalam pengambilan keputusan. Dalam mengambil
keputusan, kita mempunyai kriteria
sebagai dasar penilaian, dan kita juga akan dihadapkan dengan lebih dari satu alternative pilihan.Jika
alternative pilihan tersebut hanya ada
dua, mungkin masih mudah buat kita untuk memilih, akan tetapi jika alternative pilihan tersebut banyak,
maka cukup sulit bagi kita untuk
memutuskannya.
AHP merupakan teknik yang dikembangkan untuk membantu mengatasi kesulitan ini. Dalam AHP,
semua alternative plilihan diadu satu
lawan satu, seperti pada pertandingan sepak bola dengan system setengah kompetisi. Skor dari
masing-masing pasangan kemudian
ditabulasi untuk dihitung total skor untuk masing-masing alternative.
AHP sering digunakan
sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena
alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari
kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas
toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh
pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis
sensitivitas pengambilan keputusan.
Tahap 1 :
hasil kalkulasi
contoh perhitungan mencari priority vector untuk okupansi :
1/3 * ( 1 / 4.75 + 0.80 / 3.80 + 0.40 / 1.90 ) = 0.2105
Tahap 3 :
pada tahap ini bisa dilihat jumlah dan priority vector dari faktor okupansi
Tahap 4 :
pada tahap ini bisa dilihat jumlah dan priority vector dari faktor kebutuhan air
Tahap 5 :
pada tahap ini bisa dilihat jumlah dan priority vector dari faktor jenis
Tahap 6 :
mencari composite weight ( CW )
contoh perhitungan :
CW untuk Semarang Barat
=
0.2105×0.0631 +
0.2632×0.0936 + 0.5263×0.5642 = 0.3349
Tahap 7 :
contoh :
Mencari persentase =
CW (kec) / CW total *
100
0,3349 / 1,6667 * 100 = 20,09
Kesimpulan
Dengan
adanya aplikasi SPK Surplus Air ini pihak PDAM jadi mengetahui prioritas
kecamatan mana yang paling membutuhkan dan menggunakan banyak air.








0 komentar: