Minggu, 20 Januari 2013

Tugas SPK : Sistem Alokasi Surplus Air (Metode AHP)


Kelompok :
1. Tan Andre Kurniawan                     ( A12.2009.03400 )
2. Julian Adhika Widodo                    (  A12.2009.03401 )
3. Ekhsandra Y . Lasamanov             ( A12.2009.03413 )
4. Fandi R. Darmawan                        ( A12.2009.03423 )
5. Aji Sulistyono                                  ( A12.2009.03782 ) 


Sistem Alokasi Surplus Air
( Dengan Metode AHP )

LATAR BELAKANG 
    PDAM memiliki surplus air yang belum dapat dipastikan akan disuplai ke sektor mana. Untuk memudahkan PDAM dalam menentukan sektor yang paling tepat menerima surplus air tersebut maka penulis mengusulkan sistem pendukung keputusan yang dapat membantu pihak PDAM dalam memutuskan dengan tepat pengalokasian surplus air sehingga meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan bagi PDAM. Penelitian yang dilakukan ini memfokuskan untuk membangun DSS dengan menambah penggunaan metode Analytic Hierarcy Process (AHP) untuk menentukan pemanfaatan surplus air berdasarkan 3 faktor yaitu okupansi, kebutuhan air dan jenis. Logikanya semakin tinggi nilai okupansi, kebutuhan air dan jenis  dari suatu kecamatan, maka semakin besar kesempatan kecamatan tersebut untuk memperoleh pemanfaatan surplus air tersebut.

     Dari penelitian ini, dengan penggunaan kedua metode DSS yang optimal secara computerized, diharapkan dapat membantu dan memudahkan pihak pemrakarsa dalam tugasnya menilai kelayakan pengajuan permintaan air menjadi lebih cepat dan akurat. Melihat dari penggunaan metode ini dapat disimpulkan bahwa, layak tidaknya surplus air diberikan sangat dipengaruhi oleh faktor okupansi, kebutuhan air dan jenis. 

Pemilihan Metode AHP
AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan salah satu teknik dalam  pengambilan keputusan. Dalam mengambil keputusan, kita mempunyai  kriteria sebagai dasar penilaian, dan kita juga akan dihadapkan dengan  lebih dari satu alternative pilihan.Jika alternative pilihan tersebut  hanya ada dua, mungkin masih mudah buat kita untuk memilih, akan tetapi  jika alternative pilihan tersebut banyak, maka cukup sulit bagi kita  untuk memutuskannya.
            AHP merupakan teknik yang dikembangkan untuk  membantu mengatasi kesulitan ini. Dalam AHP, semua alternative plilihan  diadu satu lawan satu, seperti pada pertandingan sepak bola dengan  system setengah kompetisi. Skor dari masing-masing pasangan kemudian  ditabulasi untuk dihitung total skor untuk masing-masing alternative.

AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.

Tahap 1 :



 isi jumlah surplus, okupansi, kebutuhan air dan jenis

Tahap 2 :


hasil kalkulasi

contoh perhitungan mencari priority vector untuk okupansi :

 1/3 * ( 1 / 4.75 + 0.80 / 3.80 + 0.40 / 1.90 ) = 0.2105

Tahap 3 :

pada tahap ini bisa dilihat jumlah dan priority vector dari faktor okupansi

Tahap 4 :

pada tahap ini bisa dilihat jumlah dan priority vector dari faktor kebutuhan air


Tahap 5 :

pada tahap ini bisa dilihat jumlah dan priority vector dari faktor jenis

Tahap 6 :


mencari composite weight ( CW )
contoh perhitungan : 
CW untuk Semarang Barat =
0.2105×0.0631 + 0.2632×0.0936 + 0.5263×0.5642 = 0.3349 

Tahap 7 :



contoh : 
            Mencari persentase =
CW (kec) / CW total * 100

0,3349 /  1,6667 * 100 = 20,09 


Kesimpulan

        Dengan adanya aplikasi SPK Surplus Air ini pihak PDAM jadi mengetahui prioritas kecamatan mana yang paling membutuhkan dan menggunakan banyak air.